Selama sepekan, dari Tanggal 20 hingga 26 Maret 2019, Baintelkam Mabes Polri mengajak akademisi, aktivis pergerakan, dan cendekiawan Indonesia untuk Studi Banding Toleransi, Kehidupan Sosial, dan Kawasan ke China. Di antara akademisi yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut adalah Wakil Rektor Bidang Akademik IAI Ngawi, Mahsun Fuad, M.Ag. Studi Banding tersebut bertujuan untuk melihat langsung tata kehidupan sosial dan toleransi umat beragama di China, seiring dengan santernya isu atau rumor di medsos tentang pembantaian dan genosida Bangsa Uighur di Provinsi Xinjiang.


Beberapa daerah yang dikunjungi selain Ibukota Beijing adalah Urumqi sebagai Ibukota Provinsi Xinjiang, dan salah satu kota kabupatennya, Kasghar. Titik-titik yang dikunjungi adalah Kantor Pemerintah Daerah, Pondok Pesantren, balai pelatihan kerja/vokasi, rumah susun, pabrik, Masjid, rumah warga, Ikatan Pelajar Indonesia Tiongkok, dan China Islamic Association. Titik-titik tersebut ditentukan sesuai dengan kesepakatan antara perwakilan panitia/Mabes Polri dan Pemerintah China.


Mendasar pada fakta dan informasi yang ditemukan di lapangan, rumor yang berkembang di media sosial di khalayak Indonesia terkait genosida terhadap Komunitas Uighur adalah lebih banyak tidak benarnya. Apa yang dilakukan oleh Pemerintah China tampaknya tidak lebih dari upaya pertahanan terhadap gerakan terorisme. Namun demikian, memang ada problem dan polarisasi antara ketetapan diktum konstitusi China dan tuntutan keagamaan serta sosial. Sebagai contoh, ekspresi keagamaan di China dilarang ditampakkan di ruang publik, karena konstitusi Negara menganggap agama adalah soal privat. Warga bangsa boleh beragama dan boleh tidak beragama. Penampakan ekspresi keagamaan di ruang publik dianggap mengganggu harmoni sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *