Wakil Rektor Bidang Akademik IAI Ngawi, Mahsun Fuad, M.Ag., diundang secara khusus oleh Baintelkam Mabes Polri untuk mengikuti studi banding kehidupan beragama dan kebhinekaan ke Israel, Palestina, dan Yordania, pada 2-9 Desember 2019.


Indonesia adalah negara yang terbangun di atas flora kemajemukan yang kompleks. Jati diri bangsa ini dibentuk oleh beragam tradisi dan kebudayaan. Kekayaan ini akan berbuah positif jika dikelola secara baik, dan sebaliknya, akan berakibat bencana jika tidak dikelola maupun dikelola secara buruk. Indonesia dengan slogan Bhineka Tunggal Ika-nya adalah sebuah komunitas yang dibayangkan. Ia akan kokoh dan eksis hanya jika imajinasi penduduknya untuk bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam kesatuan terus dibangun dan diperkuat. Kata kuncinya adalah bagaimana menjadikan multikulturalisme bagian penting kesadaran mayoritas penduduk. Untuk itu ikhtiar penyadaran dan penguatan multikulturalisme harus menjadi prioritas program masyarakat sipil dan pemerintah.


Studi banding tersebut adalah bagian upaya kecil dalam kerangka penguatan multikulturalisme ini. Israel, Palestina, dan Yordania sengaja dipilih selain merupakan “negerinya para Nabi” yang kaya akan jejak hsitoris agama dan spiritualitas, ketiga negara tersebut juga menjadi situs penting tempat dinamika sosial politik yang kadang berdarah-darah berlangsung hingga kini dan membetot perhatian dunia. Titik-titik yang dikunjungi dalan studi tersebut adalah Qumran (Museum Kitab Suci Laut Mati), Laut Mati, Danau Tiberias, Gunung Tabor, Gereje Sabda Bahagia, Kapernaum, Yardanit, Kana, Nazaret, Gunung Zaitun, Hebrom (Makan Nabi Ibrahim AS), Tembok Ratapan, Masjid Aqsha, Via Dolarosa, Bukit Sion, Garden Tomb, Gunung Nebo, Gua Ashabul Kahfi, dan The Lost City (Petra).


Studi banding ini menjadi sangat kontekstual sebagai bahan bagi upaya penguatan lanskap kehidupan berbangsa di tanah dalam bingkai multikulturalisme. Cobaan berat terhadap multikulturalisme Indonesia kontemporer akibat politisasi identitas berbasis SARA dalam derajat tertentu dapat kita atasi. Namun kita menyadari bahwa karakter berbangsa dan bernegara kita dalam bingkai multikulturalisme tersebut senantiasa rentan dan mudah pecah. Diperlukan upaya yang tidak kunjung berhenti untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya Pancasila sebagai “common denominator” (kalimatus sawa’) di tengah keragaman itu, di antaranya lewat pendidikan kebangsaan dan penanaman multikulturalisme secara serius di semua jenis dan jenjang pendidikan, dari level pendidikan terendah hingga perguruan tinggi di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *